KOMUNITAS KORAN KECIL

KOMUNITAS KORAN KECIL
Sawah di desa Jambu

Senin, 28 Juni 2010



Satu Abad Muhammadiyyah

Muktamar Muhammadiyah akan berlangsung 3 sampai 8 Juli 2010 di Yogyakarta. Muktamar Muhammadiyah bertepatan dengan usianya Muhammadiyah ke 100 atau usia 1 abad.
Ditinjau dari segi usia, Muhammadiyah telah memiliki kematangan dalam mengelola persyarikatan. Pada periodesasi kepemimpinan hampir sepi dengan konflik kepentingan. Karena, di dalam Muhammadiyah tidak terjadi firqoh-firqoh. Ketika ketua umum yang telah selesai menunaikan amanahnya selama lima tahun. Maka selesailah amanah itu. Kemudian pada acara muktamar akan dipilih kembali ketua dan jajarannya dengan sistem yang berbeda dengan organisasi massa lainnya.

Muhammadiyah dalam perjalanan sejarahnya, telah menunjukkan kepiawaiannya dalam menjalin hubungan dan kerjasama dengan para penguasa/pemerintah Indonesia. Ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda dan di bawah kekuasaan Belanda, KH.A. Dahlan mampu meyakinkan bahwa persyarikatan yang beliau dirikan bukanlah organisasi politik yang menentang pemerintahan Belanda. Muhammadiyah bercita-cita memajukan kesejahteraan umum, melalui pendidikan dan kegiatan sosial. Pendidikan yang diselenggarakan oleh KH.A. Dahlan bersedia bekerjasama dengan pendidikan Belanda yang tidak meninggalkan ciri khususnya sebagai pendidikan Islam.
Sikap moderat KH.A. Dahlan ini memberikan kemudahan persyarikatan untuk bergerak dalam bidang dakwah Islamiah. Efek lainnya, pendidikan Muhammadiyah telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap Indonesia. Tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia merupakan kader-kader Muhammadiyah yang secara nyata mendorong tercapainya Indonesia Merdeka.

Ketika massa penjajahan Jepang, Muhammadiyah juga dapat menjalin hubungan yang baik dengan penjajah Jepang. pemerintah Jepang dapat memahami sikap Muhammadiyah yang tidak bersedia menghormat dewa matahari, sebagaimana yang diyakini pemerintah Jepang.

Pada masa-masa sulit itu, Muhammadiyah dapat menjalankan bahteranya dengan baik. Pun, ketika Indonesia memasuki Era demokrasi terpimpin. Di mana, tokoh-tokoh Muhammadiyah menjadi tokoh-tokoh politik dari Partai Masyumi. Dan pada saat itu, Presiden Sukarno garis politiknya sangat berseberangan dengan partai masyumi. Karena sengketa politik, maka Presiden Soekarno membubarkan Partai Masyumi. Toh, meski Soekarno mengetahui bahwa tokoh-tokoh Partai Maasyumi kebanyakan "orang" Muhammadiyah, tetapi Soekarno memahami bahwa Muhammadiyah bukan bagian dari Partai Masyumi. Soekarno sendiri pun juga kader Muhammadiyah ketika masa mudanya. Beliau memahami Muhammadiyah tidak berpolitik tetapi tahu apa itu politik.

Pada era Orde Baru, sekitar 30 tahunan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada Era Soeharto, Muhammadiyah semakin berkembang pesat. Pendidikan perguruan Muhammadiyah telah memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam bidang pendidikan dengan program menyukseskan pendidikan dasar sembilan tahun. Pemerintah juga tidak menutup mata atas kiprah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan. Bantuan berupa fasilitas dan subsisi dana serta bantuan tenaga guru PNS, merupakan bentuk nyata Muhammadiyah dapat menjalin harmonisasi dengan pemerintahan Presiden Soeharto.

Hubungan baik Muhammadiyyah terhadap pemerintahan atau kelompok manapun. Tidak menghalangi Muhammadiyah untuk bersikap kritis terhadapa kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap keliru dan berdampak merugikan umat Islam. Sikap keras Muhammadiyyah tersebut, kadangkala menjadikan hubungan antara Pemerintah dan Muhammadiyyah menjadi renggang. Namun, ketika sikap Pemerintah yang memahami sikap Muhammadiyyah dan kebijakan yang "keliru" itu dicabut atau diperbaiki, maka Muhammadiyyah akan bekerjasama lagi dengan saling menghormati.

Sikap kritis Muhammadiyyah itu mencapai puncaknya, ketika Muhammadiyyah menyikapi kepemimpinan Presiden Soeharto yang semakin "over load". Muhammadiyyah mendesak terjadinya suksesi kepemimpinan dengan menghendaki Presiden Soeharto tidak mencalonkan diri lagi sebagai Presiden RI.

Tentu saja, sikap kritis itu sangat berdampak pada rotasi politik yang sedang berjalan menjadi sedikit terganggu. Politik nasional memanas. Ribuan elemen masyarakat dan ormas mahasiswa turun ke jalan menuntut Presiden Soeharto mundur dari kursi kepresidenan. Tokoh central dari suksesi kepemimpinan yang terjadi 1998 itu adalah tokoh Muhammadiyyah Prof. Amin Rais ketua umum Muhammadiyyah saat itu.

kondisi nasional yang genting itu, Muhammadiyyah bersikap tegas, bahwa pergantian kepemimpinan nasional harus dalam koridor konstitusional. Akhirnya krisis kepemimpinan pun dapat teratasi atas kebijakan semua elemen bangsa yang memilih jalan damai yakni win-win solution. Presiden Soeharto, bersedia memilih mundur untuk mengakhiri situasi politik yang menuju chaos. Diakui atau tidak Muhammadiyyah telah ikut mendorong Indonesia menuju era baru yakni era Reformasi.

Rabu, 23 Juni 2010

Pendidikan dan Dakwah Muhammadiyah

Sang Surya telah bersinar
syahadah dua melingkar
al - Islam agama ku
Muhammadiyah gerakan ku

Lagu Hymne Muhammadiyah ini seringkali dikumandangkan para siswa Muhammadiyah, ketika mereka menerima pelajaran Ke-Muhammadiyahan, sebagai kuriklum ciri khusus di perguruan Muhammadiyah se-Indonesia.
Sang Surya atau Matahari merupakan simbul, bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang lahir pada masa kolonial Belanda berusaha sekuat mungkin atau usaha yang tampa lelah untuk memberikan pencerahan kepada segenap anak bangsa khususnya umat Islam.

Pencerahan kepada segenap umat Islam itu sebagai modal dasar untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda yang sudah berabad-abad lamanya. Melepaskan diri dari Penjajahan kolonial Belanda tidak harus dilawan dengan gerakan bersenjata. Melepaskan diri dari belenggu penjajahan, maka masyarakatnya harus memiliki kepandaian yang cukup. Sementara, umat Islam Indonesia saat itu, jauh dari pendidikan.

KH A. Dahlan juga memiliki strategi tidak akan melakukan pergerakan politik untuk melawan kolonial Belanda. Beliau memilih jalur yang kooperatif dengan menjalin kerjasama untuk mengentaskan umat Islam dari kebodohan. Atas strateginya itu, KH A. Dahlan mendapatkan izin untuk menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat umum.

Kini, dalam usianya menuju satu abad, Muhammadiyah sebagai sebuah pergerakan dakwah Islam telah memiliki kekayaan dunia yang sangat melimpah. Amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, telah memiliki ribuan lembaga pendidikan mulai dari jenjang pendidikan pra sekolah hingga perguruan tinggi. Amal usaha dalam bidang Kesejahteraan Umat, MUhammadiyah telah memiliki ratusan Rumah Sakit dan Poliklinik. Namun, dalam bidang yang lainnya, khususnya gerakan dakwah, nampaknya mulai melemah. MUhammadiyyah disibukkan untuk mengelola aset-asetnya sehingga tidak mengalami kebangkrutan. Kelompok-kelompok pengajian binaan Muhammadiyyah pada tingkat ranting atau desa (kelurahan) semakin jarang tampak kepermukaan. Namun, pengajian yang hanya diikuti pengurus Muhammadiyyah masihlah berjalan itu pun hanya bersifat kuliah tujuh menit. Ulama-ulama Muhammadiyyah juga kalah pamor dengan para cendekiawan dari kalangan pendidikan umum.

Sekarang ini sangatlah terkenal adalah sosok cendekiawan muslim dari Muhammadiyyah Buya Syafi'i Ma'arif dan Amin Rais serta Din Syamsudin, ketiga tokoh ini bukanlah ulama. Di manakah para Ulama besar Muhammadiyyah yang mampu memberi suluh sekaliguis memberi keteladanan terhadap umat Islam.

Nampaknya, warga Muhammadiyyah merindukan sosok ulama besar semacam Buya Hamka. Sosok ulama besar yang senantiasa memberikan dakwah Islamiyah hingga akhir hayatnya. Karya besarnya berupa kitab Tafsir Al- Manar merupakan bukti bahwa Buya Hamka sosok ulama sekaligus seorang cendikiawan Muslim pada zamannya.

KH. AR. Fahrudin, seorang ulama Muhammadiyyah yang memberikan tauladan kesantunan dalam hubungannya dengan pergaulan antar tokoh agama. Beliau memberikan surat kepada Yohanes Paus Paulus yang akan berkunjung ke Indonesia. KH. AR. Fahrudin tidak berteori tentang sekularisme atau Pluralisme dalam telaah ilmu keislaman. Umat Islam telah memiliki prinsip dalam kaitannya dengan pergaulan antar agama. Surat Al- Maun telah memberikan rambu-rambu bagaimana semestinya umat Islam kaitannya dengan pergaulan antar agama dan pemeluknya.

KH. AR. Fahrudin meski sebagai Ketua Umum MUhammadiyyah, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwahnya bagi masyarakat luas. Itupun dakwahnya dapat diterima dengan baik oleh kalangan Islam lainnya, khususnya warga Nahdlotul Ulama.

Dalam usianya yang ke 100, Muhammadiyyah perlu bercermin kembali, tujuan dasar persyarikatan sebagaimana yang diamanatkan pendirinya KH A. Dahlan. Wasiatnya yang sangat terpenting dan terkenal " Hidup-hidupilah MUhammadiyyah. Jangan mencari hidup di dalam MUhammadiyyah".

Wasiat ini, sepintas merupakan kalimat yang sangat sederhana dan mudah dicerna oleh segenap warga dan kader MUhammadiyyah. KH.A. Dahlan, seperti mengisyaratkan sebelumnya, bahwa kelak Muhammadiyyah akan memiliki kekayaan yang melampaui cita-citanya. Muhammadiyyah akan menjadi tempat bernaung ribuan karyawan yang bekerja pada amal usaha Muhammadiyyah. Layaknya seorang manusia pada umumnya, ketika sesuatu berubah menjadi serba ada dan serba mudah, maka sadar ataupun tidak sadar manusia akan dihinggapi penyakit cinta dunia (hubbuddunya). Akar dari ketidak ikhlasan adalah penyakit hubddunya.

Amal usaha MUhammadiyyah memiliki karyawan dari berbagai ragam latar belakang. Tidak semua karyawan amal usaha Muhammadiyyah adalah warga Muhammadiyyah. Demikian halnya dalam dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyyah pun, semakin lebih pada sekolah umum. Pelajaran agama Islam dan Kemuhammadiyahan masih jauh dengan pendidikan madrasah atau sekolah agama. Sehingga pendidikan perguruan MUhammadiyyah tingkat hanya memberikan sekedar saja bagi anak didiknya dalam biang agama Islam.
Alumni sekolah MUhammadiyyah, banyak ditemui tidak dapat membaca al qur'an dengan fasih. kemudian pelajaran bahasa arab yang duajarkan dalam kurikulum sangatlah elementer. Sehingga alumni sekolah Muhammadiyyah dalam bidang bahasa arab pengetahuannya layaknya siswa kelas 2 atau 3 madrasah ibtidaiyyah.

Sementara, pengurus Muhammadiyyah lebih optimis mengembangkan sekolah SMP atai SMK dan SMK ketimbang menyelenggarakan madrasah ibtidaiyah, tsnawiyah sampai Aliyah.
Menurutnya sekolah-sekolah yang dibawah naungan Depag (Departemen Agama) sulit berkembang dan tidak diminati masyarakat. disinilah kekeliruan dari pengurus MUhammadiyyah mulai dari tingkat ranting hingga PDM ( Pimpinan Daerah Muhmammadiyah ) bahkan hingga sampai pengurus pusat (PP) MUhammadiyyah yang tidak memberi perhatian khusus terhadap sekolah agama.

Senin, 07 Juni 2010




Kaget Ya !

Sudahlah, jangan kau bicarakan lagi soal itu. Karena kalau dibuka, banyak saudara kita yang kena imbasnya. Kalau itu terjadi, habislah kita ini. "haaa, emangnya sedahsyat itu imbasnya," kata ku setengah tak percaya.Lantas siapa saja yang kena dampaknya," tukasku mencoba mengklarifikasi. Setelah mendapatkan kejelasan. Aku jadi terkaget-kaget. Karena selama ini mereka, itu dikenal sebagai pejabat-pejabat yang bersih.
Sudahlah, jangan terlalu kaget. mereka harus bersikap seperti itu. Agar publik memberi penilaian yang positip.
"Ya, image positif macam itu memang perlu mengemuka. Sehingga publik menjadi percaya atau dibuat percaya dengan kepempinannya."
Pikiran warasku mencoba mengoreksi sikapku sendiri yang aku kemukakan di forum informal tadi malam. teman-temanku malah merasa heran dengan kekagetanku. Tapi aku sendiri mencoba membenarkan sikap dan sifat pejabat - pejabat publik di negeri ini.Sikap sendiko dawuh, yes men atau asal bapak senang. Tapi diam-diam mereka menelikung kebijakan yang mereka buat sendiri. Ujung-ujungnya sikap dan sifat seperti itu hanya untuk memuaskan ego pribadinya.
Tapi, apa bisa mereka "bermain" sendiri. Pasti ada partner untuk di ajak ngegohke berbagai kebijakan. pasti, si partner juga memiliki tujuan pribadi. Pasti keuntungan apa yang didapat dari "permainan" itu, sudah dikalkulasi untung dan resikonya.
Ingat, bau busuk meski ditutupi rapat, akan terasa juga. Salah satu teman ku yang duduk diujung gang mengingatkan bahwa kebijakan politik semacam itu, cukup berbahya. Mana ada yang jujur, yang penting dari luar ada yang tidak di tutup-tutupi. Lipservislah, yang penting terlihat performanya mantap. Sesuai kriteria moral orang timur. Dia tampak jujur, intelektual, memiliki kredibilitas yang tidak buruk dan prestasinya dalam kinerjanya sebagai Dirjen keberhasilannya sangat terukur dan nyata.
Tapi, apa benar saudara-saudara kita itu, mengerti akan posisi kita. Ya, paling tidak, paham tidak dengan keinginan kita pada negeri ini. Kita harus lebih kaya dibanding kelompok lainnya. Kita mesti lebih kuat dan tampak lebih familiar terhadap rakyat. Padahal, misi kita yang sebenarnya adalah membuat birokrasi menjadi kerdil, tidak efektif dan tidak ada pengawasan.
Biar saja the big bos kita membuat berbagai kebijakan yang berslogan humanis. Ya, membuat lembaga-lembaga dibawah pengawasan negara yang intinya pingin memberangus korupsi. Koruptornya, ya kita ini. orang-orang yang ada di dalam sistem. orang-orang yang bukan the top birokrat. Tapi, kita ini sebenarnya yang memiliki sistem birokrat yang sebenarnya. Kita ini yang berada di pembuluh darahnya birokrator. Mereka tidak mengira kalau kita yang mengendalikannya.
Korupsi itu adalah perbuatan kita. Geng ini yang akan membuat lembaga-lembaga anti makelar kasus, anti suap dan anti-anti yang lainnya, aku menyebut mereka yang masuk pada lembaga tersebut adalah kelompok orang-orang bebal dan sok intelek sekaligus sok suci. Pasti, mereka tidak dapat bekerja sebagaimana idealnya. Karena sistem yang kita buat ini bakal menjadi mereka mati kutu. Syukur kalau tidak frustasi dengan keadaan. "Hahahaha....benar kamu." Kita ini kumpulan orang-orang yang cerdas kata bosku sambil terbahak-bahak menunjukkan jika dirinya senang dengan logika seperti itu.

Satgas penegak keadilan, satgas penegakakan hukum serta tetek bengek satgas lain-lainnya. Paling hanya menjadi beban keuangan negara.
Saudara, ketahuilah kita ini bukan birokrat kelas wahid. Kita ini bukan politisi penghuni gedung senayan. Kita ini hanya bagian yang tidak diperhitungkan dalam ranah sosial dan birokrasi. Tapi, kita ingin bermain-main dan memainkan peran yang sangat strategis. Pekerjaan kita adalah memanjakan bos, dengan uang-uang hasil yang tak jelas. Uang markup proyek, uang pungli serta uang hasil ampresen, yakni, meminta uang dengan jalan paksa. Dan uang itu ada di mana-mana.