Sang Surya telah bersinar
syahadah dua melingkar
al - Islam agama ku
Muhammadiyah gerakan ku
Lagu Hymne Muhammadiyah ini seringkali dikumandangkan para siswa Muhammadiyah, ketika mereka menerima pelajaran Ke-Muhammadiyahan, sebagai kuriklum ciri khusus di perguruan Muhammadiyah se-Indonesia.
Sang Surya atau Matahari merupakan simbul, bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang lahir pada masa kolonial Belanda berusaha sekuat mungkin atau usaha yang tampa lelah untuk memberikan pencerahan kepada segenap anak bangsa khususnya umat Islam.
Pencerahan kepada segenap umat Islam itu sebagai modal dasar untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda yang sudah berabad-abad lamanya. Melepaskan diri dari Penjajahan kolonial Belanda tidak harus dilawan dengan gerakan bersenjata. Melepaskan diri dari belenggu penjajahan, maka masyarakatnya harus memiliki kepandaian yang cukup. Sementara, umat Islam Indonesia saat itu, jauh dari pendidikan.
KH A. Dahlan juga memiliki strategi tidak akan melakukan pergerakan politik untuk melawan kolonial Belanda. Beliau memilih jalur yang kooperatif dengan menjalin kerjasama untuk mengentaskan umat Islam dari kebodohan. Atas strateginya itu, KH A. Dahlan mendapatkan izin untuk menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat umum.
Kini, dalam usianya menuju satu abad, Muhammadiyah sebagai sebuah pergerakan dakwah Islam telah memiliki kekayaan dunia yang sangat melimpah. Amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, telah memiliki ribuan lembaga pendidikan mulai dari jenjang pendidikan pra sekolah hingga perguruan tinggi. Amal usaha dalam bidang Kesejahteraan Umat, MUhammadiyah telah memiliki ratusan Rumah Sakit dan Poliklinik. Namun, dalam bidang yang lainnya, khususnya gerakan dakwah, nampaknya mulai melemah. MUhammadiyyah disibukkan untuk mengelola aset-asetnya sehingga tidak mengalami kebangkrutan. Kelompok-kelompok pengajian binaan Muhammadiyyah pada tingkat ranting atau desa (kelurahan) semakin jarang tampak kepermukaan. Namun, pengajian yang hanya diikuti pengurus Muhammadiyyah masihlah berjalan itu pun hanya bersifat kuliah tujuh menit. Ulama-ulama Muhammadiyyah juga kalah pamor dengan para cendekiawan dari kalangan pendidikan umum.
Sekarang ini sangatlah terkenal adalah sosok cendekiawan muslim dari Muhammadiyyah Buya Syafi'i Ma'arif dan Amin Rais serta Din Syamsudin, ketiga tokoh ini bukanlah ulama. Di manakah para Ulama besar Muhammadiyyah yang mampu memberi suluh sekaliguis memberi keteladanan terhadap umat Islam.
Nampaknya, warga Muhammadiyyah merindukan sosok ulama besar semacam Buya Hamka. Sosok ulama besar yang senantiasa memberikan dakwah Islamiyah hingga akhir hayatnya. Karya besarnya berupa kitab Tafsir Al- Manar merupakan bukti bahwa Buya Hamka sosok ulama sekaligus seorang cendikiawan Muslim pada zamannya.
KH. AR. Fahrudin, seorang ulama Muhammadiyyah yang memberikan tauladan kesantunan dalam hubungannya dengan pergaulan antar tokoh agama. Beliau memberikan surat kepada Yohanes Paus Paulus yang akan berkunjung ke Indonesia. KH. AR. Fahrudin tidak berteori tentang sekularisme atau Pluralisme dalam telaah ilmu keislaman. Umat Islam telah memiliki prinsip dalam kaitannya dengan pergaulan antar agama. Surat Al- Maun telah memberikan rambu-rambu bagaimana semestinya umat Islam kaitannya dengan pergaulan antar agama dan pemeluknya.
KH. AR. Fahrudin meski sebagai Ketua Umum MUhammadiyyah, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwahnya bagi masyarakat luas. Itupun dakwahnya dapat diterima dengan baik oleh kalangan Islam lainnya, khususnya warga Nahdlotul Ulama.
Dalam usianya yang ke 100, Muhammadiyyah perlu bercermin kembali, tujuan dasar persyarikatan sebagaimana yang diamanatkan pendirinya KH A. Dahlan. Wasiatnya yang sangat terpenting dan terkenal " Hidup-hidupilah MUhammadiyyah. Jangan mencari hidup di dalam MUhammadiyyah".
Wasiat ini, sepintas merupakan kalimat yang sangat sederhana dan mudah dicerna oleh segenap warga dan kader MUhammadiyyah. KH.A. Dahlan, seperti mengisyaratkan sebelumnya, bahwa kelak Muhammadiyyah akan memiliki kekayaan yang melampaui cita-citanya. Muhammadiyyah akan menjadi tempat bernaung ribuan karyawan yang bekerja pada amal usaha Muhammadiyyah. Layaknya seorang manusia pada umumnya, ketika sesuatu berubah menjadi serba ada dan serba mudah, maka sadar ataupun tidak sadar manusia akan dihinggapi penyakit cinta dunia (hubbuddunya). Akar dari ketidak ikhlasan adalah penyakit hubddunya.
Amal usaha MUhammadiyyah memiliki karyawan dari berbagai ragam latar belakang. Tidak semua karyawan amal usaha Muhammadiyyah adalah warga Muhammadiyyah. Demikian halnya dalam dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyyah pun, semakin lebih pada sekolah umum. Pelajaran agama Islam dan Kemuhammadiyahan masih jauh dengan pendidikan madrasah atau sekolah agama. Sehingga pendidikan perguruan MUhammadiyyah tingkat hanya memberikan sekedar saja bagi anak didiknya dalam biang agama Islam.
Alumni sekolah MUhammadiyyah, banyak ditemui tidak dapat membaca al qur'an dengan fasih. kemudian pelajaran bahasa arab yang duajarkan dalam kurikulum sangatlah elementer. Sehingga alumni sekolah Muhammadiyyah dalam bidang bahasa arab pengetahuannya layaknya siswa kelas 2 atau 3 madrasah ibtidaiyyah.
Sementara, pengurus Muhammadiyyah lebih optimis mengembangkan sekolah SMP atai SMK dan SMK ketimbang menyelenggarakan madrasah ibtidaiyah, tsnawiyah sampai Aliyah.
Menurutnya sekolah-sekolah yang dibawah naungan Depag (Departemen Agama) sulit berkembang dan tidak diminati masyarakat. disinilah kekeliruan dari pengurus MUhammadiyyah mulai dari tingkat ranting hingga PDM ( Pimpinan Daerah Muhmammadiyah ) bahkan hingga sampai pengurus pusat (PP) MUhammadiyyah yang tidak memberi perhatian khusus terhadap sekolah agama.