KOMUNITAS KORAN KECIL

KOMUNITAS KORAN KECIL
Sawah di desa Jambu

Minggu, 28 November 2010




Halal Bi Halal

Tradisi Halal bi Halal, sebuah konsepsi dakwah yang menjangkau semua lapisan. Kawula alit dan bendoro dapat berkomunikasi tanpa jarak. Mereka saling mengaku salah sehingga mudah untuk saling memberi maaf.
Mengapa bisa demikian? Ya, karena Halal bi Halal diselenggarakan setelah masyarakat Islam telah lepas dari kewajibannya menunaikan ibadah puasa. Pada konsep ibadah puasa ini, mereka yang menjalankan puasa sebulan penuh. Maka Allah SWT memberikan ampunan kepada semua hambanya. Hamba dalam Islam adalah mereka yang muslim dan taat beribadah. Tidak mengenal kelas. Islam mengajarkan kesetaraan sosial. Islam hanya mengenal perbedaan dalam tingkatan Taqwa. Muslim yang taqwa, maka mereka akan dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT.
Selepas dari bulan penuh ampunan itu (puasa) maka seorang muslim harus menunaikan zakat sebagai alat untuk mensucikan harta bendanya. Mereka pun harus memohon maaf dan memberi maaf kepada sesama manusia. Dalm konteks ini, manusia adalah plural. Manusia dari kalangan apapun, agama apapun dan budaya yang beragam, dalam hubungannya sesama manusia maka dapat dipastikan saling memiliki salah dan khilaf yang harus dimintakan maaf. Sehingga pada bulan Syawal, seorang muslim yang berpuasa dan sudah saling memaafkan akan besih dari dosa. Baik dosa yang kaitannya dengan ibadah kepada Allah maupun dosa dunia yang kaitannya dengan perbuatan sehari-hari.
Para wali songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa berijtihad, agar jalinan silaturrahmi semua lapisan masyarakat dapat berkumpul dan saling memberi maaf. Maka wadah itu diberi nama Halal bi Halal.

Rabu, 13 Oktober 2010

peringatan pertempuran lima hari di semarang


Kamis,13/10




Peristiwa pertempuran lima hari di Semarang merupakan bukti sejarah perlawanan rakyat Semarang terhadap penjajah Jepang. Kawasan sekitar Tugu Muda sekarang ini merupakan saksi bisu terjadinya pertempuran selama lima hari rakyat Semarang melawan kekejian tentara Jepang yang membunuh pemuda-pemuda Semarang.
Gedung Lawang Sewu, Gedung Museum Mandala, serta kali Semarang merupakan bukti, kekejaman Tentara Jepang yang dengan membabi buta menyembelih para pemuda Semarang tanpa ampun. DR Kariadi, yang sedang melakukan penelitian air kali garang di tembak mati oleh tentara Jepang. Nama DR Kariadi diabadikan sebagai RSUD terbesar di Jawa Tengah.
Kekejaman Tentara Jepang, tentu saja mendapatkan perlawanan dari pemuda-pemuda Semarang. Mereka mengepung Semarang dari segala penjuru sehingga terjadi pertempuran hingga lima hari. Setelah Jepang mennyatakan menyerah. Tentara Jepang dilucuti oleh para pemuda dan dimasukkan di penjara Bulu sekarang ini digunakan sebagai Lapas Wanita Bulu. Dipenjara ini pula, pemuda -pemuda semarang melampiaskan dendamnya dengan membunuhi tentara-tentara Jepang yang tertawan.
Guna mengenang pertempuran lima hari, Walikota Semarang Hadi Subeno pada tahun 1959, membangun monumen berupa tugu peringatan yang diberi nama Tugu Muda. Pada kawasan sekitar Tugu Muda inilah setiap tanggal 13 Oktober pertempuran lima hari diperingati. Segenap unsur TNI dan Polri, Ormas Kepemudaan serta PNS di lingkungan Pemerintah Kota Semarang beserta unsur masyarakat lainnya mengikuti jalannya upacara Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Antusias masayrakat Kota Semarang menyambut Peringatan Pertempuran Lima Hari nampak dari berjejalnya masyarakat dalam menyaksikan jalannya upacara dari awal hingga akhir upacara. Suasana peperangan memang sangat nampak dalam peringatan ini. Yakni, suasana mencekam yang diawali suara sirene yang meraung-raung yang disusul dengan suara dentuman meriam berkali-kali bersamaan dengan suara tembakan senapan. Suasana gelap diseputar Tugu Muda semakin menguatkan seperti pertempuran sebenarnya.

Selasa, 10 Agustus 2010

ruwahan

pengajian al munawar jum'at lalu adalah pengajian penutupan. Alhamdulillah yg hadir masih di atas rata-rata. Meski demikian, tetep saja ada beberapa yg jelehi. Bi'is tetep bersikukuh mimpin sendiri baca asmaul khusna. Pdhl banyak yg ngrasani. Ya... memang pinginnya begitu. Tapi, kalo tak mau berubah atau berbagi, wao... al-munawar bisa koit.
Duhhh, masih gitu, pembinanya jg hobi tampil. dulu2 tak ada acara baca kitab diba, kecuali pas bln maulid. skg seperti bacaan wajib. Hm... sangat menyebalkan. Yach mau apa lagi. Kalo aku bersikeras agar acara itu tdk ada, bisa ada konflik. Meski skrg pun aku menunjukkan sikap tdk seneng. wis ben.
Yg bikin seru pengajian kemarin adalah antusias jamaah dlm bertanya kpd ustad. Pak sulimin tanya masalah sesajen bg ortu. Padahal sesajen itu sudah jamak dibuat oleh org kebanyakan. Apalagi pas bulan ruwah. Apem, ketan, gedang rojo dan satunya apem contong.
Ustad menjawab dgn tegas, soal sesajen haram. Jawaban ini sesuai kehendak hati, karena Muhammadiyah memang berusaha menghilangkan praktek sesajen. Ternyata 100 tahun dr mulai kelahiran Muhammadiyah, praktek sesajen di Indonesia tetep saja masih bercokol dgn metode dan model yg baru.
menilik cara dakwah para wali. Berbagai rangkaian macam penganan itu ada maknanya. Apem dr kata bhs arab afwun. Gedang raja dr ghodan raja'a dan ketan dr kata khotan.
menilik ulasan yg aku sampaikan, ustad menjawab, kl niatannya seperti itu, tdk masalah karena niatannya bukan untuk sesajen. Kl begitu Innamal a'malu binniat. Semua tergantung niatannya.

Senin, 28 Juni 2010



Satu Abad Muhammadiyyah

Muktamar Muhammadiyah akan berlangsung 3 sampai 8 Juli 2010 di Yogyakarta. Muktamar Muhammadiyah bertepatan dengan usianya Muhammadiyah ke 100 atau usia 1 abad.
Ditinjau dari segi usia, Muhammadiyah telah memiliki kematangan dalam mengelola persyarikatan. Pada periodesasi kepemimpinan hampir sepi dengan konflik kepentingan. Karena, di dalam Muhammadiyah tidak terjadi firqoh-firqoh. Ketika ketua umum yang telah selesai menunaikan amanahnya selama lima tahun. Maka selesailah amanah itu. Kemudian pada acara muktamar akan dipilih kembali ketua dan jajarannya dengan sistem yang berbeda dengan organisasi massa lainnya.

Muhammadiyah dalam perjalanan sejarahnya, telah menunjukkan kepiawaiannya dalam menjalin hubungan dan kerjasama dengan para penguasa/pemerintah Indonesia. Ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda dan di bawah kekuasaan Belanda, KH.A. Dahlan mampu meyakinkan bahwa persyarikatan yang beliau dirikan bukanlah organisasi politik yang menentang pemerintahan Belanda. Muhammadiyah bercita-cita memajukan kesejahteraan umum, melalui pendidikan dan kegiatan sosial. Pendidikan yang diselenggarakan oleh KH.A. Dahlan bersedia bekerjasama dengan pendidikan Belanda yang tidak meninggalkan ciri khususnya sebagai pendidikan Islam.
Sikap moderat KH.A. Dahlan ini memberikan kemudahan persyarikatan untuk bergerak dalam bidang dakwah Islamiah. Efek lainnya, pendidikan Muhammadiyah telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap Indonesia. Tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia merupakan kader-kader Muhammadiyah yang secara nyata mendorong tercapainya Indonesia Merdeka.

Ketika massa penjajahan Jepang, Muhammadiyah juga dapat menjalin hubungan yang baik dengan penjajah Jepang. pemerintah Jepang dapat memahami sikap Muhammadiyah yang tidak bersedia menghormat dewa matahari, sebagaimana yang diyakini pemerintah Jepang.

Pada masa-masa sulit itu, Muhammadiyah dapat menjalankan bahteranya dengan baik. Pun, ketika Indonesia memasuki Era demokrasi terpimpin. Di mana, tokoh-tokoh Muhammadiyah menjadi tokoh-tokoh politik dari Partai Masyumi. Dan pada saat itu, Presiden Sukarno garis politiknya sangat berseberangan dengan partai masyumi. Karena sengketa politik, maka Presiden Soekarno membubarkan Partai Masyumi. Toh, meski Soekarno mengetahui bahwa tokoh-tokoh Partai Maasyumi kebanyakan "orang" Muhammadiyah, tetapi Soekarno memahami bahwa Muhammadiyah bukan bagian dari Partai Masyumi. Soekarno sendiri pun juga kader Muhammadiyah ketika masa mudanya. Beliau memahami Muhammadiyah tidak berpolitik tetapi tahu apa itu politik.

Pada era Orde Baru, sekitar 30 tahunan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada Era Soeharto, Muhammadiyah semakin berkembang pesat. Pendidikan perguruan Muhammadiyah telah memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam bidang pendidikan dengan program menyukseskan pendidikan dasar sembilan tahun. Pemerintah juga tidak menutup mata atas kiprah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan. Bantuan berupa fasilitas dan subsisi dana serta bantuan tenaga guru PNS, merupakan bentuk nyata Muhammadiyah dapat menjalin harmonisasi dengan pemerintahan Presiden Soeharto.

Hubungan baik Muhammadiyyah terhadap pemerintahan atau kelompok manapun. Tidak menghalangi Muhammadiyah untuk bersikap kritis terhadapa kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap keliru dan berdampak merugikan umat Islam. Sikap keras Muhammadiyyah tersebut, kadangkala menjadikan hubungan antara Pemerintah dan Muhammadiyyah menjadi renggang. Namun, ketika sikap Pemerintah yang memahami sikap Muhammadiyyah dan kebijakan yang "keliru" itu dicabut atau diperbaiki, maka Muhammadiyyah akan bekerjasama lagi dengan saling menghormati.

Sikap kritis Muhammadiyyah itu mencapai puncaknya, ketika Muhammadiyyah menyikapi kepemimpinan Presiden Soeharto yang semakin "over load". Muhammadiyyah mendesak terjadinya suksesi kepemimpinan dengan menghendaki Presiden Soeharto tidak mencalonkan diri lagi sebagai Presiden RI.

Tentu saja, sikap kritis itu sangat berdampak pada rotasi politik yang sedang berjalan menjadi sedikit terganggu. Politik nasional memanas. Ribuan elemen masyarakat dan ormas mahasiswa turun ke jalan menuntut Presiden Soeharto mundur dari kursi kepresidenan. Tokoh central dari suksesi kepemimpinan yang terjadi 1998 itu adalah tokoh Muhammadiyyah Prof. Amin Rais ketua umum Muhammadiyyah saat itu.

kondisi nasional yang genting itu, Muhammadiyyah bersikap tegas, bahwa pergantian kepemimpinan nasional harus dalam koridor konstitusional. Akhirnya krisis kepemimpinan pun dapat teratasi atas kebijakan semua elemen bangsa yang memilih jalan damai yakni win-win solution. Presiden Soeharto, bersedia memilih mundur untuk mengakhiri situasi politik yang menuju chaos. Diakui atau tidak Muhammadiyyah telah ikut mendorong Indonesia menuju era baru yakni era Reformasi.

Rabu, 23 Juni 2010

Pendidikan dan Dakwah Muhammadiyah

Sang Surya telah bersinar
syahadah dua melingkar
al - Islam agama ku
Muhammadiyah gerakan ku

Lagu Hymne Muhammadiyah ini seringkali dikumandangkan para siswa Muhammadiyah, ketika mereka menerima pelajaran Ke-Muhammadiyahan, sebagai kuriklum ciri khusus di perguruan Muhammadiyah se-Indonesia.
Sang Surya atau Matahari merupakan simbul, bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang lahir pada masa kolonial Belanda berusaha sekuat mungkin atau usaha yang tampa lelah untuk memberikan pencerahan kepada segenap anak bangsa khususnya umat Islam.

Pencerahan kepada segenap umat Islam itu sebagai modal dasar untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda yang sudah berabad-abad lamanya. Melepaskan diri dari Penjajahan kolonial Belanda tidak harus dilawan dengan gerakan bersenjata. Melepaskan diri dari belenggu penjajahan, maka masyarakatnya harus memiliki kepandaian yang cukup. Sementara, umat Islam Indonesia saat itu, jauh dari pendidikan.

KH A. Dahlan juga memiliki strategi tidak akan melakukan pergerakan politik untuk melawan kolonial Belanda. Beliau memilih jalur yang kooperatif dengan menjalin kerjasama untuk mengentaskan umat Islam dari kebodohan. Atas strateginya itu, KH A. Dahlan mendapatkan izin untuk menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat umum.

Kini, dalam usianya menuju satu abad, Muhammadiyah sebagai sebuah pergerakan dakwah Islam telah memiliki kekayaan dunia yang sangat melimpah. Amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, telah memiliki ribuan lembaga pendidikan mulai dari jenjang pendidikan pra sekolah hingga perguruan tinggi. Amal usaha dalam bidang Kesejahteraan Umat, MUhammadiyah telah memiliki ratusan Rumah Sakit dan Poliklinik. Namun, dalam bidang yang lainnya, khususnya gerakan dakwah, nampaknya mulai melemah. MUhammadiyyah disibukkan untuk mengelola aset-asetnya sehingga tidak mengalami kebangkrutan. Kelompok-kelompok pengajian binaan Muhammadiyyah pada tingkat ranting atau desa (kelurahan) semakin jarang tampak kepermukaan. Namun, pengajian yang hanya diikuti pengurus Muhammadiyyah masihlah berjalan itu pun hanya bersifat kuliah tujuh menit. Ulama-ulama Muhammadiyyah juga kalah pamor dengan para cendekiawan dari kalangan pendidikan umum.

Sekarang ini sangatlah terkenal adalah sosok cendekiawan muslim dari Muhammadiyyah Buya Syafi'i Ma'arif dan Amin Rais serta Din Syamsudin, ketiga tokoh ini bukanlah ulama. Di manakah para Ulama besar Muhammadiyyah yang mampu memberi suluh sekaliguis memberi keteladanan terhadap umat Islam.

Nampaknya, warga Muhammadiyyah merindukan sosok ulama besar semacam Buya Hamka. Sosok ulama besar yang senantiasa memberikan dakwah Islamiyah hingga akhir hayatnya. Karya besarnya berupa kitab Tafsir Al- Manar merupakan bukti bahwa Buya Hamka sosok ulama sekaligus seorang cendikiawan Muslim pada zamannya.

KH. AR. Fahrudin, seorang ulama Muhammadiyyah yang memberikan tauladan kesantunan dalam hubungannya dengan pergaulan antar tokoh agama. Beliau memberikan surat kepada Yohanes Paus Paulus yang akan berkunjung ke Indonesia. KH. AR. Fahrudin tidak berteori tentang sekularisme atau Pluralisme dalam telaah ilmu keislaman. Umat Islam telah memiliki prinsip dalam kaitannya dengan pergaulan antar agama. Surat Al- Maun telah memberikan rambu-rambu bagaimana semestinya umat Islam kaitannya dengan pergaulan antar agama dan pemeluknya.

KH. AR. Fahrudin meski sebagai Ketua Umum MUhammadiyyah, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwahnya bagi masyarakat luas. Itupun dakwahnya dapat diterima dengan baik oleh kalangan Islam lainnya, khususnya warga Nahdlotul Ulama.

Dalam usianya yang ke 100, Muhammadiyyah perlu bercermin kembali, tujuan dasar persyarikatan sebagaimana yang diamanatkan pendirinya KH A. Dahlan. Wasiatnya yang sangat terpenting dan terkenal " Hidup-hidupilah MUhammadiyyah. Jangan mencari hidup di dalam MUhammadiyyah".

Wasiat ini, sepintas merupakan kalimat yang sangat sederhana dan mudah dicerna oleh segenap warga dan kader MUhammadiyyah. KH.A. Dahlan, seperti mengisyaratkan sebelumnya, bahwa kelak Muhammadiyyah akan memiliki kekayaan yang melampaui cita-citanya. Muhammadiyyah akan menjadi tempat bernaung ribuan karyawan yang bekerja pada amal usaha Muhammadiyyah. Layaknya seorang manusia pada umumnya, ketika sesuatu berubah menjadi serba ada dan serba mudah, maka sadar ataupun tidak sadar manusia akan dihinggapi penyakit cinta dunia (hubbuddunya). Akar dari ketidak ikhlasan adalah penyakit hubddunya.

Amal usaha MUhammadiyyah memiliki karyawan dari berbagai ragam latar belakang. Tidak semua karyawan amal usaha Muhammadiyyah adalah warga Muhammadiyyah. Demikian halnya dalam dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyyah pun, semakin lebih pada sekolah umum. Pelajaran agama Islam dan Kemuhammadiyahan masih jauh dengan pendidikan madrasah atau sekolah agama. Sehingga pendidikan perguruan MUhammadiyyah tingkat hanya memberikan sekedar saja bagi anak didiknya dalam biang agama Islam.
Alumni sekolah MUhammadiyyah, banyak ditemui tidak dapat membaca al qur'an dengan fasih. kemudian pelajaran bahasa arab yang duajarkan dalam kurikulum sangatlah elementer. Sehingga alumni sekolah Muhammadiyyah dalam bidang bahasa arab pengetahuannya layaknya siswa kelas 2 atau 3 madrasah ibtidaiyyah.

Sementara, pengurus Muhammadiyyah lebih optimis mengembangkan sekolah SMP atai SMK dan SMK ketimbang menyelenggarakan madrasah ibtidaiyah, tsnawiyah sampai Aliyah.
Menurutnya sekolah-sekolah yang dibawah naungan Depag (Departemen Agama) sulit berkembang dan tidak diminati masyarakat. disinilah kekeliruan dari pengurus MUhammadiyyah mulai dari tingkat ranting hingga PDM ( Pimpinan Daerah Muhmammadiyah ) bahkan hingga sampai pengurus pusat (PP) MUhammadiyyah yang tidak memberi perhatian khusus terhadap sekolah agama.

Senin, 07 Juni 2010




Kaget Ya !

Sudahlah, jangan kau bicarakan lagi soal itu. Karena kalau dibuka, banyak saudara kita yang kena imbasnya. Kalau itu terjadi, habislah kita ini. "haaa, emangnya sedahsyat itu imbasnya," kata ku setengah tak percaya.Lantas siapa saja yang kena dampaknya," tukasku mencoba mengklarifikasi. Setelah mendapatkan kejelasan. Aku jadi terkaget-kaget. Karena selama ini mereka, itu dikenal sebagai pejabat-pejabat yang bersih.
Sudahlah, jangan terlalu kaget. mereka harus bersikap seperti itu. Agar publik memberi penilaian yang positip.
"Ya, image positif macam itu memang perlu mengemuka. Sehingga publik menjadi percaya atau dibuat percaya dengan kepempinannya."
Pikiran warasku mencoba mengoreksi sikapku sendiri yang aku kemukakan di forum informal tadi malam. teman-temanku malah merasa heran dengan kekagetanku. Tapi aku sendiri mencoba membenarkan sikap dan sifat pejabat - pejabat publik di negeri ini.Sikap sendiko dawuh, yes men atau asal bapak senang. Tapi diam-diam mereka menelikung kebijakan yang mereka buat sendiri. Ujung-ujungnya sikap dan sifat seperti itu hanya untuk memuaskan ego pribadinya.
Tapi, apa bisa mereka "bermain" sendiri. Pasti ada partner untuk di ajak ngegohke berbagai kebijakan. pasti, si partner juga memiliki tujuan pribadi. Pasti keuntungan apa yang didapat dari "permainan" itu, sudah dikalkulasi untung dan resikonya.
Ingat, bau busuk meski ditutupi rapat, akan terasa juga. Salah satu teman ku yang duduk diujung gang mengingatkan bahwa kebijakan politik semacam itu, cukup berbahya. Mana ada yang jujur, yang penting dari luar ada yang tidak di tutup-tutupi. Lipservislah, yang penting terlihat performanya mantap. Sesuai kriteria moral orang timur. Dia tampak jujur, intelektual, memiliki kredibilitas yang tidak buruk dan prestasinya dalam kinerjanya sebagai Dirjen keberhasilannya sangat terukur dan nyata.
Tapi, apa benar saudara-saudara kita itu, mengerti akan posisi kita. Ya, paling tidak, paham tidak dengan keinginan kita pada negeri ini. Kita harus lebih kaya dibanding kelompok lainnya. Kita mesti lebih kuat dan tampak lebih familiar terhadap rakyat. Padahal, misi kita yang sebenarnya adalah membuat birokrasi menjadi kerdil, tidak efektif dan tidak ada pengawasan.
Biar saja the big bos kita membuat berbagai kebijakan yang berslogan humanis. Ya, membuat lembaga-lembaga dibawah pengawasan negara yang intinya pingin memberangus korupsi. Koruptornya, ya kita ini. orang-orang yang ada di dalam sistem. orang-orang yang bukan the top birokrat. Tapi, kita ini sebenarnya yang memiliki sistem birokrat yang sebenarnya. Kita ini yang berada di pembuluh darahnya birokrator. Mereka tidak mengira kalau kita yang mengendalikannya.
Korupsi itu adalah perbuatan kita. Geng ini yang akan membuat lembaga-lembaga anti makelar kasus, anti suap dan anti-anti yang lainnya, aku menyebut mereka yang masuk pada lembaga tersebut adalah kelompok orang-orang bebal dan sok intelek sekaligus sok suci. Pasti, mereka tidak dapat bekerja sebagaimana idealnya. Karena sistem yang kita buat ini bakal menjadi mereka mati kutu. Syukur kalau tidak frustasi dengan keadaan. "Hahahaha....benar kamu." Kita ini kumpulan orang-orang yang cerdas kata bosku sambil terbahak-bahak menunjukkan jika dirinya senang dengan logika seperti itu.

Satgas penegak keadilan, satgas penegakakan hukum serta tetek bengek satgas lain-lainnya. Paling hanya menjadi beban keuangan negara.
Saudara, ketahuilah kita ini bukan birokrat kelas wahid. Kita ini bukan politisi penghuni gedung senayan. Kita ini hanya bagian yang tidak diperhitungkan dalam ranah sosial dan birokrasi. Tapi, kita ingin bermain-main dan memainkan peran yang sangat strategis. Pekerjaan kita adalah memanjakan bos, dengan uang-uang hasil yang tak jelas. Uang markup proyek, uang pungli serta uang hasil ampresen, yakni, meminta uang dengan jalan paksa. Dan uang itu ada di mana-mana.

Rabu, 12 Mei 2010

Politik Transaksional



Sekretariat bersama (Sekber) parpol koalisi Pemerintahan SBY dicurigai sebagai upaya praktek politik transaksional yang mengedepankan praktik politik nepotisme antara Penguasa dan Pengusaha.
Kecurigaan publik ini bukan tanpa dasar. Diangkatnya Abu Rizal Bakri sebagai ketua harian Sekber merupakan indikasi terjadinya politik transaksional. SBY sepanjang kasus Century mencuat, membutuhkan power full dukungan politik dari mitra koalisinya. Sehingga pemakzulan yyang dilontarkan beberapa anggota DPR sulit untuk direalisasikan. Untuk itu SBY membutuhkan Partai Golkar sebagai mitra koalisinya yang memiliki posisi yang cukup signifikan di panggung perpolitikan di gedung DPR/MPR.
Partai Golkar dalam kasus Bank Century memang telah memainkan perannya dengan maksimal. tetapi niatannya bukan untuk menyelesaikan Kasus Century ini sebagaimana yang dikehendaki partai-partai yg berseberangan dengan SBY. Niatannya tidak lain adalah sebagai alat tawar politik sebagian lainnya untuk melindungi orang-orang G0lkar yang bermasalah. Bahkan mungkin pula sebagai alat untuk melindungi pribadi ketua umum Partai Golkar Abu RIzal Bakri yang menuai masalah lumpur Lapindo dan pengemplangan nilai Pajak yang belum dibayar oleh Grup Bakri.
Mantan Menkeu Sri Mulyani, secara tegas menyatakan bahwa Brup Bakri nyata-nyata telah melalaikan kewajibannya sebagai wajib Pajak. Ketegasan Menkeu jelas membuat hubungan Partai Golkar dan Pemerintahan SBY sedikit mengalami ketegangan. Dan SBY sebagai presiden tahu, seberapa kuatnya Partai Golkar di parlemen. Bila hubungan tidak harmonis ini tidak di akhiri, sangat mungkin Golkar keluar dari koalisi dan bergabung dengan partai-partai oposisi, tentunya agendanya adalah menurunkan SBY dari kursi Presiden. Terlebih media untuk mengarah pada pemakzuklan itu tersedia, yakni kasus Bail Out Bank Century.
Partai Golkar di parlemen secara terang-terangan berusaha menyudutkan Menkeu sebagai pejabat yang paling bertanggung jawab dalam kasus Century. Hal ini dapat dibaca sebagai upaya Golkar melindungi kepentingan Abu Rizal Bakri. Aksi balas dendam terhadap Sri Mulyani, kini telah terjawab sudah. Sri Mulyani telah menyatakan mundur sebagai Menkeu.
Momentum inilah yang sangat ditunggu oleh SBY dan Abu Rizal Bakri. Karena dengan mundurnya Menkeu, maka jalinan koalisi antara Golkar dan Pemerintahan SBY dapat berjalan harmonis kembali.
Lantas, apakah kasus Bank Century ini akan dihentikan. Jelas, yang dikehendaki partai koalisi supaya kasus ini dapat dihentikan karena berbagai alasan. Nah, seberapa besar partai oposisi akan terus berjuang supaya kasus century ini dapat terungkap seterang-terangnya. Apakah mungkin Partai Golkar tetap konsisten dengan sikap awalnya terhadap kasus Century. Nampaknya sangat sulit diharapkan. Padahal, kasus Century tanpa Golkar memberi dukungan kepada oposisi, maka sulit oposisi memenangkannya. Inilah salah satu bahaya praktik politik transaksional. Yakni, terjadi transaksi yang saling menguntungkan dan menutupi kelemahan antara pengusaha dan penguasa. Lantas rakyat dengan berbagai kepentingan sosialnya akan terkalahkan. Dan rakyat tidak akan pernah mendapatkan keadilan dan kemakmuran jika Pemerintah dan pengusaha memainkan peran yang sangat dominan.
Maka jangan berharap rakyat Jawa Timur yang terkena dampak lumpur Lapindo mendapatkan keadilan. Karena penguasa tidak berpihak pada rakyat. Hukum pun tidak akan pernah berbuat adil kepada rakyat.
Apakah dengan kondisi seperti ini, kita akan tinggal diam?