KOMUNITAS KORAN KECIL

KOMUNITAS KORAN KECIL
Sawah di desa Jambu

Senin, 07 Juni 2010




Kaget Ya !

Sudahlah, jangan kau bicarakan lagi soal itu. Karena kalau dibuka, banyak saudara kita yang kena imbasnya. Kalau itu terjadi, habislah kita ini. "haaa, emangnya sedahsyat itu imbasnya," kata ku setengah tak percaya.Lantas siapa saja yang kena dampaknya," tukasku mencoba mengklarifikasi. Setelah mendapatkan kejelasan. Aku jadi terkaget-kaget. Karena selama ini mereka, itu dikenal sebagai pejabat-pejabat yang bersih.
Sudahlah, jangan terlalu kaget. mereka harus bersikap seperti itu. Agar publik memberi penilaian yang positip.
"Ya, image positif macam itu memang perlu mengemuka. Sehingga publik menjadi percaya atau dibuat percaya dengan kepempinannya."
Pikiran warasku mencoba mengoreksi sikapku sendiri yang aku kemukakan di forum informal tadi malam. teman-temanku malah merasa heran dengan kekagetanku. Tapi aku sendiri mencoba membenarkan sikap dan sifat pejabat - pejabat publik di negeri ini.Sikap sendiko dawuh, yes men atau asal bapak senang. Tapi diam-diam mereka menelikung kebijakan yang mereka buat sendiri. Ujung-ujungnya sikap dan sifat seperti itu hanya untuk memuaskan ego pribadinya.
Tapi, apa bisa mereka "bermain" sendiri. Pasti ada partner untuk di ajak ngegohke berbagai kebijakan. pasti, si partner juga memiliki tujuan pribadi. Pasti keuntungan apa yang didapat dari "permainan" itu, sudah dikalkulasi untung dan resikonya.
Ingat, bau busuk meski ditutupi rapat, akan terasa juga. Salah satu teman ku yang duduk diujung gang mengingatkan bahwa kebijakan politik semacam itu, cukup berbahya. Mana ada yang jujur, yang penting dari luar ada yang tidak di tutup-tutupi. Lipservislah, yang penting terlihat performanya mantap. Sesuai kriteria moral orang timur. Dia tampak jujur, intelektual, memiliki kredibilitas yang tidak buruk dan prestasinya dalam kinerjanya sebagai Dirjen keberhasilannya sangat terukur dan nyata.
Tapi, apa benar saudara-saudara kita itu, mengerti akan posisi kita. Ya, paling tidak, paham tidak dengan keinginan kita pada negeri ini. Kita harus lebih kaya dibanding kelompok lainnya. Kita mesti lebih kuat dan tampak lebih familiar terhadap rakyat. Padahal, misi kita yang sebenarnya adalah membuat birokrasi menjadi kerdil, tidak efektif dan tidak ada pengawasan.
Biar saja the big bos kita membuat berbagai kebijakan yang berslogan humanis. Ya, membuat lembaga-lembaga dibawah pengawasan negara yang intinya pingin memberangus korupsi. Koruptornya, ya kita ini. orang-orang yang ada di dalam sistem. orang-orang yang bukan the top birokrat. Tapi, kita ini sebenarnya yang memiliki sistem birokrat yang sebenarnya. Kita ini yang berada di pembuluh darahnya birokrator. Mereka tidak mengira kalau kita yang mengendalikannya.
Korupsi itu adalah perbuatan kita. Geng ini yang akan membuat lembaga-lembaga anti makelar kasus, anti suap dan anti-anti yang lainnya, aku menyebut mereka yang masuk pada lembaga tersebut adalah kelompok orang-orang bebal dan sok intelek sekaligus sok suci. Pasti, mereka tidak dapat bekerja sebagaimana idealnya. Karena sistem yang kita buat ini bakal menjadi mereka mati kutu. Syukur kalau tidak frustasi dengan keadaan. "Hahahaha....benar kamu." Kita ini kumpulan orang-orang yang cerdas kata bosku sambil terbahak-bahak menunjukkan jika dirinya senang dengan logika seperti itu.

Satgas penegak keadilan, satgas penegakakan hukum serta tetek bengek satgas lain-lainnya. Paling hanya menjadi beban keuangan negara.
Saudara, ketahuilah kita ini bukan birokrat kelas wahid. Kita ini bukan politisi penghuni gedung senayan. Kita ini hanya bagian yang tidak diperhitungkan dalam ranah sosial dan birokrasi. Tapi, kita ingin bermain-main dan memainkan peran yang sangat strategis. Pekerjaan kita adalah memanjakan bos, dengan uang-uang hasil yang tak jelas. Uang markup proyek, uang pungli serta uang hasil ampresen, yakni, meminta uang dengan jalan paksa. Dan uang itu ada di mana-mana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar